Perahu-Perahu Mimpi (4)

Rona mukanya memerah saat ia menceritakan kisah ini, jelas terbaca kesedihan yang mendalam. Aku yakin ia sangat-sangat kehilangan. Anak mana yang tidak perih harinya saat ditinggalkan orang tuanya untuk selama-lamanya. Saat bercerita, sesekali ia berusaha menutupi perasaan, aku tahu ia benar-benar bersedih. Apalagi dengan kepergian mamaknya yang beberapa tahun ia tinggalkan. Di saat beberapa impian telah ia raih, di saat yang sama Tuhan mengambil nikmat yang telah diberikan. Aku tahu, jika tidak sedang di hadapanku, pastilah ia akan menangis sesenggukan.

Kini sudah banyak nikmat yangtelah Tuhan berikan kepadanya. Ia telah berhasil melewati serangkaian tikungan, turunan dan tanjakan yang Tuhan persembahkan untuk kehidupannya. Tujuan utamanya merantau dulu adalah ingin menjadi orang yang berguna untuk lingkungannya, untuk kampung halamannya. Ia bercita-cita ingin mengabdikan diri untuk kemakmuran desanya yang jauh dari perkotaan. Ia melihat tidak sedikit anak-anak yang putus sekolah dan tidak mengenyam pendidikan. Faktor utamanaya adalah ekonomi. Rata-rata penduduk di desanya adalah buruh tani tambak, sehingga pendidikan sangat diabaikan. Suatu saat nanti ia akan kembali ke kampung halaman, membangun desanya yang terbelakang. Ia ingin mengubah pikiran orang-orang di desanya yang menganggap pendidikan tidaklah penting.

Perjuangan mengubah paradikma masyarakat di desanya sebetulnya telah mulai ia rintis sejak setahun yang lalu. Ia merintis “Rumah Belajar Anak Pinggiran”. Lembaga pendidikan non formal ini didirikan bersama adiknya dan segenap masyarakat di desanya sebagai wujud pengabdian untuk kampung halamannya, bentuknya adalah berupa layanan pendidikan untuk anak pinggiran yang haus akan pendidikan.

Meskipun belum cukup lama lembaga ini didirikan, namunrupa-rupanya cukup tinggi antuasias masyarakat yang mendukung serta membantu menghidupkan kegiatan di lembaga ini. Beruntungnya, banyak pemuda seusia adiknya yang dengan sukarela mengajar di sini. Ia sangat bersyukur lembaga ini bisa berjalan dan berkembang dengan cepat.Tahun ini lembaga itu sudah mengantongi izin operasional sebagai lembaga formal berbentuk sekolah. Ia berharap semakin banyak masyarakat di desanya yang dermawan yang mau memikirkan nasib anak-anak pinggiran disana.

Ia bercerita dengan penuh semangat. Menggelora seperti puluhan anak panah yang dilesatkan dari busurnya, Berkali-kali aku berdecak kagum. Berkali-kali ia mengatakan bahwa perjuangannya belum usai. Ia masih memiliki impian-impian yang menggunung di sanubarinya.

Dimeja baca yang bersih, antara barisan rak-rak buku perpustakaan yang sejuk, hatiku merenung, aku ingat dengan kata-kata yang pernah diucapkan Wayne Huizenga dan Zig Ziglar dalam bukunya :

“Beberapa orang memimpikan kesuksesan, sementara yang lain bangun setiap pagi untuk mewujudkannya.”

“Kebahagiaan sama dengan kenyataan dikurangi ekspektasi.”

“Kita tidak perlu menjadi luar biasa untuk memulai, tapi kita harus memulai untuk menjadi luar biasa.”

            Kini aku mengerti, bahwa kesuksesan adalah hasil dari kesempurnaan, kerja keras, belajar dari pengalaman, loyalitas, dan kegigihan. Untuk meraih sukses, sikap sama pentingnya dengan kemampuan. Sukses adalah sebuah perjalanan, bukan sebuah tujuan. Usaha sering lebih penting daripada hasilnya. Rahasia dari kesuksesan adalah bahwa kita tidak pernah menyerah. Kesuksesan dan kegagalan adalah sama-sama bagian dalam hidup. Keduanya hanyalah sementara. Tidak ada kesuksesan tanpa kesulitan.

Tiga hal yang paling penting mengenai kebahagiaan dalam hidup, yakni sesuatu yang kita kerjakan, sesuatu yang kita cintai, dan sesuatu yang kita harapkan.

Perahu-Perahu Mimpi (3)

Lagi-lagi cobaan datang menyerang tanpa kenal ampun. Menghantam tanpa kenal surut. Perlakuan kurang menyenangkan dari teman-temannya hadir ketika ia hendak berusaha memperbaiki data-data beasiswa. Ia mendapat kecurangan dari teman-temannyayang tidak menyukai keberadaannya. Teman-temannya tersebut memberikan laporan kepada rektorat demi menurunkan reputasi prestasinya di kampus. Dan benar saja karenalaporan itu, akhirnya beasiswanya dicabut oleh pihak kampus.

Waktu itu masa tenggang pendidikannya di S1 hanya tinggal satu semester sebelum kelulusan dan yang menjadi masalah adalah bagaimana ia bisa menyelesaikan pendidikan sedangkan saat ituiatidak memiliki uang sepeser pun.Mau tidak mau akhirnya ia harus bertekat  akan bekerja lebih keras demi mencukupi kebutuhan sehari-hari dan biaya kuliahnyayang tinggal satu semester. Untunglah Tuhan benar-benar maha adil. Entah sebuah keajaiban atau jawaban dari Tuhan atas doa-doanya, seminggu setelahnya ia kembali dipanggil rektorat. Dan ternyata beasiswa bisa memberikan kembali.

Hingga tiba saatnya hari kelulusan. Dengan perjuangan yang keras Alhamdulillah ia dapat lulus S1 dengan predikat cum lauda. Dan tak hanya itu, impiannya untuk melanjutkan ke jenjang S2 beasiswa pun berhasil diraih. Satu lagi mimpinya yang menjadi kenyataan. Sungguh besar anugerah Tuhan untuknya, dan hanya dengan bersyukurlah caranya untuk berterima kasih.

“Hidup itu anugerah yang harus dijalani.”

“Jika kita yakin dan berusaha sungguh-sungguh, Tuhan pasti akan mengabulkannya”

Ia berkata sambil menulis beberapa catatan di buku catatan peminjaman perpustakaan. Aku hanya manggut-manggut saja sambil terus mendengarkan ceritanya.

Hari ini aku free jadi waktuku banyak untuk mendengarkan cerita-ceritanya. Sengaja hari ini aku sempatkan untuk menemiunya di perpustakaan lagi. Mumpung tidak ada tugas kuliah yang harus kuselesaikan segera.  Pagi-pagi sebelum perpustakaan buka aku sudah berada di kampus, sekalian mampir dulu di kantin untuk sarapan. Sebetulnya seminggu yang lalu juga aku sudah mendengarkan beberapa cerita inspiratifnya, cerita-cerita perjuangannya meraih mimpi, tapi rasa-rasanya masih ada yang kurang. Banyak hal yang masih ingin ku dengar dari kisah-kisah hidupnya yang rasanya sangat menarik, bahkan ada beberapa kemiripan dengan kisah hidup yang tengah kujalani. Itu mungkin sebabnya yang membuat aku betah mendengarkan kata-katanya, dari awal sampai akhir seolah sebuah kisah yang tertulis dalam buku harian.  

“Tidak semua keinginan kita bisa terjadi”

“Kadang impian jauh dari kenyataan”

Ia melanjutkan ceritanya sambil melayani mahasiswa yang mengembalikan atau meminjam buku.

Tuhan benar-benar maha bijaksana, dibalik kebahagiaan yang ia raih saat lulus dengan predikat cum lauda dan diterima di program beasiswa S2, Kabar duka kembali menghampiri hidupnya, ternyata Tuhan lebih menyayangi keluarganya. Saat itu mamaknya harus pergi menyusul ayahnya untuk menghadap sang Illahi.

Perahu-Perahu Mimpi (2)

Selang beberapa hari setelah kepergian ayahnya, ia mendapat kabar bahwa ia diterima di universitas negeri di Malang. Ia benar-benar bingung menghadapi kenyataan antara sedih dan gembira. Sedih karena kehilangan orang tua yang dikasihinya dan gembira karena bisa diterima di universitas negeri favorit yang telah lama ia impi-impikan. Jika ia jadi berangkat, ia juga akan meninggalkan mamak dan adiknya tanpa didampingi ayahnya lagi. Benar-benar sebuah pilihan yang sangat berat untuk dipilih. Ibarat makan buah simalakama.  

            Ia menceritakan bahwa berkat dorongan dan motivasi dari guru bimbingan dan konseling yang ada di SMAnya ia akhirnya memutuskan untuk berangkat. Ia bertekat bahwa pasti selalu ada jalan untuk orang yang mau mengubah hidupnya.

            Kepergiannya merantau bukannya tanpa hambatan, Disamping pikiran-pikirannya yang tidak tega meninggalkan mamak dan adiknya, ia juga dihadapkan pada persoalan biaya untuk transportasi, daftar ulang, uang gedung dan lain-lainnya yang membuat kepalanya benar-benar pusing. Untunglah ia mempunyai guru bimbingan konseling yang sangat baik hati dan dermawan. Melalui beliau dihimpun dana dari beberapa orang guru SMAnya sehingga terkumpul uang yang cukup untuk menambah biaya selama beberapa waktu ia di perantauan. Untunglah juga pada akhirnya mamak dan adiknya mau melepaskan kepergiannya meskipun dengan sangat-sangat berat hati.

Rupanya, harapan tak selalu sejalan dengan kenyataan, dan impian tak selalu senada dengan kehidupan. Perjalanan hidupnya ketika menimba ilmu di sini tidak semudah yang ada di pikirannya. Banyak sekali rintangan dan hambatan yang ia hadapi. Hidup di tempat yang jauh dengan hanya bermodalkan tekat saja ternyata sangat-sangat memerlukan keberanian, ketangguhan dan mental yang sekuat baja.

Tekatnya yang benar-benar bulat untuk mengubah nasib membuatnya tidak segan-segan untuk berusaha sekuat tenaga mengumpulkan rupiah. Setiap pagi ia awali hari dengan berjualan koran. Sehabis subuh ia sudah mengayuh sepeda reotnya mengelilingi kompleks perumahan dan beberapa kantor untuk mengantarkan Koran. Siang hari kuliah, sore hingga malamnya ia bekerja sebagai pelayan di warung nasi.Pekerjaan itu ia jalani bertahun-tahun.

Banyaknya diskriminasi sosial yang ia dapatkan selama di sini kerap kali hampir menumbangkan mimpi-mimpinya dan tak sedikit dari teman-temannya di kampusyang tidak menyukai keberadaannya. Mereka beranggapan bagaimana bisa seorang mahasiswa yang menggantungkan hidupnya dari menjual Koran dan pelayan warung nasi bisa kuliah di sini?
Namun sekali lagi, ia selalu berusaha mengokohkan kembali mimpi-mimpi yang hampir tumbang itu. Tak pernah didengarkan cemoohan mereka, apalagi meladeninya. Ia selalu menganggap cacian yang bertubi-tubi dari bibir mereka semua adalah do’a yang akan mengantarkannya kepada kesuksesan.

Perahu-Perahu Mimpi (1)

Namanya Pak Rudi. Ia bilang sudah enam tahun ini tinggal di kota Malang. Enam tahun lalu ia memutuskan meninggalkan kota kelahirannya, Palembang untuk merantau meneruskan pendidikan. Setelah kurang lebih empat tahun kuliah S1, kini berlanjut di S2.Sudah dua tahun iniia bekerja di Perpustakaan kampus. Disini, ia bekerja sebagai petugas pelayanan perpustakaan.Alhamdulillah, katanya selain untuk biaya kuliah dan hidup, iajuga bisa menyisihkan uangnya dan mengirimkanke keluarganya di Palembang. Sampai sekarang, untuk membiayai kuliahnya, selain bekerja di kampus, iajuga mengelola sebuah rumah makan dan toko buku, majalah dan koran di sela-sela kesibukannya kuliah dan bekerja.

            Dulu, katanya semenjak memutuskan untuk merantau, selamaempat tahunia tidak pernah pulang ke kampung halamannyameski hanya untuk menjenguk keluarganya. Maklum, waktu itu ongkos pulang pun ia tidak ada, katanya mungkin semua telah ditakdirkan karena memang sebenarnya keluarganya tak begitu merestui keputusannya merantau.

Pak Rudi bercerita, ia memang terlahir dari keluarga yang berlatar belakang ekonomi rendah atau bahkan mungkin ekonomi paling bawah. Namun hal tersebut bukan masalah baginya, dan tak sedikitpun menyurutkan niatnya untuk terus belajar dan bersekolah setinggi mungkin supaya semua impiannya menjadi nyata.

Beberapa tahun yang lalu, tepatnya saat ia akan masuk SMA ia dan keluarganyabenar-benar dipusingkan oleh masalah ekonomi yang semakin sulit. Sebelumnyasewaktu akan melanjutkan ke SMP saja sudah seperti hal yang mustahil. Tapi Alhamdulillah, rupanya bisa juga lolos katanya.

Saat SMAdulu, ia tepis semua pemikiran mustahil yang ada di benaknya. Setiap pulang sekolah ia meluangkan waktu untuk bekerja demi sepeser rupiah dan berusaha mencari peluang beasiswa-beasiswa agar bisa belajar di bangku Sekolah Menengah Atas.

Bersyukur, adalah sebuah kata dalam kamus hidupnya yang tidak akan pernah usang dikikis masa. Rupanya Tuhan telah menititipkan kecerdasan padanya, sehingga dengan kondisi ekonomi yang seperti itu ia masih memiliki peluang sekolah yang cukup besar.
Tuhan memang maha Adil, dibalik kesulitan selalu ada kemudahan. Tuhan memang selalu memberikan apa yang dibutuhkan bukan apa yang diinginkan. Berkat usaha dan kerja kerasnya, akhirnya ia berhasil lolos SMA.

Setelah berhasil lolos SMA bukannya lepas dari masalah, tapi justru ia harus menghadapi kenyataan yang benar-benar pahit. Ia harus kehilangan ayah yang menjadi tulangpunggung keluarganya, pergi meninggalkan dirinya, mamaknya dan adiknya untuk selama-lamanya. Saat itu perasaannya benar-benar hancur lebur. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah kepada yang maha kuasa.

Aku Ingin Terjaga dari Mimpi (2)

Minggu pagi, gerimispun masih membasahi bumi. Aku sedang memandangi dia yang ada di dalam kamarnya dari atap rumah tetangganya, sampai hujan semakin deras. Aku melihat dia yang sedang menulis entah apa disebuah buku catatan. Mungkin dia menulis cerita atau apalah itu. Aku ingin sekali menghampirinya. Berkata bahwa selama ini aku selalu memandanginya, memperhatikannya dikala hujan turun. Tapi apalah dayaku.  Aku hayalah aku. Yang akan hilang seiring hilangnya hujan.

            Ketika aku masih asik melihatnya dari atap rumah, tiba-tiba dia menoleh dan keheranan melihatku. Aku langsung melesat pergi bersembunyi. Dia berjalan menuju teras dan mencari keberadaanku. Aku masih bertanya-tanya apakah dia bisa melihatku?Padahal semua orang tidak akan bisa melihatku. Apakah dia hanya merasa kalau ada yang melihatnya? Ataukah dia benar-benar bisa melihatku. Tanpa memikirkan itu, akupun melesat pergi meninggalkan hujan yang kian mereda mengiringkepergianku.

            Kadang aku berpikir, sudah berapa lama aku selalu memperhatikannya. Menatapnya dari kejauhan tanpa bisa menggapainya. Aku selalu berharap suatu saat dia bisa kugapai. Tapi itu tidak mungkin bisa terjadi. Tidak akan mungkin.

            Aku selalu berpikir kenapa aku bisa tertarik dengannya yang bahkan sama sekali tidak pernah tahu siapa aku. Aku bahkan sangat menikmati saat memandanginya. Entah sampai kapan aku bertahan seperti ini.

            Sore hari, aku kembali mendatanginya saat hujan turun dan dia sedang di depan sebuah toko. Dia mungkin sedang menunggu seseorang atau entah menunggu siapa. Aku masih tetap setia memandanginya dari tengah jalanan yang telah tergenang air hujan karena amat derasnya. Ku melihat di sekeliling banyak orang yang berjalan menggunakan payung, jas hujan, ataupun sekadar menggunakan penutup kepala untuk menghindari hujan.

            Saat aku kembali melihat ke arahnya, dia telah menatapku dengan penuh keheranan dan rasa curiga. Aku segera berlari untuk menghindarnya. Tapi ternyata dia mengejarku, berlari di belakangku dengan mengangkat kedua tangannya untuk melindunginya dari air hujan. Sampai tiba di sebuah gang sempit, dan aku bersembunyi di atas atap rumah di sebelah gang tersebut. Dia kebingungan mencari keberadaanku.

Aku Ingin Terjaga dari Mimpi (1)

Hujan yang turun sore ini begitu deras hingga jarak pandang terlihat semakin pendek. Pepohonan, atap rumah, tembok dan pagar semuanya kuyup oleh siraman air yang jatuh dari langit. Tapi lain halnya denganku, hujan tidak pernah bisa membasahiku. Karena aku adalah aku, yang sebentar datang dan sebentar pergi.Jika angin berhembus, aku bebas sesuka hati memandang apapun yang kuinginkan, bumi, langit, hamparan sungai, gunung, bebatuan bahkan seseorang yang mungkin tidak pernah bisa kugapai.Seperti halnya sore ini, aku menatapnya dengan leluasa, seseorang yang aku tahu sangat menyukai hujan. Jika orang lain akan membuka payungnya ketika hujan, dia akan berdiri di tengah derasnya hujan dengan membiarkan wajahnya terkena air hujan. Tapi dia tidak membiarkan bajunya basah, dia akan berteduh setelah hujan semakin deras. Aku tahu itu, karena aku selalu memperhatikannya. Selalu memandangnya.

Sore ini hujan turun dengan deras, seperti biasanya aku tetap setia berdiri mematung di tengah derasnya hujan. Memandang seseorang yang kini sedang meminum teh hangat di sebuah kafe. Tertawa bersama teman-temannya. Aku sangat menyukai tawanya. Sesaat kemudian dia melihat kearah jalanan yang dibasahi oleh air hujan. Aku terkejut, tiba-tiba sekarang dia melihat ke arahku, dia bisa melihatku dan dia sedang memandangku.Dia kini sedang melihatku dengan wajahnya yang kebingungan entah karena apa.  Mungkin karena aku yang berdiri mematung di tengah derasnya hujan tapi aku tidak basah.

Aku berlari, berusaha menghindarinya. Disaat semua orang tak dapat melihatku. Dia bisa melihatku, memandangiku dengan heran. Aku bersembunyi di gang sempit di depan kafe dan tetap memperhatikanya lagi. Sampai dia kembali dengan tawanya bersama teman- temannya dan melupakan aku yang barusan dilihatnya.

Mutiara Terindah (2)

Kamar ku sangat sederhana ukurannya pun tak begitu besar sekitar 3 x 3 meter. Tak ada televisi. Hanya ada rak buku, meja belajar dan lemari baju dari kayu jati. Ada beberapa fotoku dan sebuah lukisan bernuansa alam. Hanya itu,sangat sederhana namun bisa membuatku betah. Kamarku terdapat jendela yang menghadap ke kebun dekat rumahku. Setelah merasa cukup bernostalgia dengan suasana dan isi kamar aku begegas menuju kamar mandi.

Selesai mandi aku kembali menuju ruang tengah, menyalakan televisi, dan duduk di karpet bawah yang sengaja dihantarkan ibu di situ.Kunikmati pisang goreng hangat dan teh bikinan ibu sambil membolak-balik beberapa buku. Hmmm.. rasanya nikmat sekali.

“Ayo makan dulu. Nanti keburu dingin” Ibu berkata sambil menata mukena untuk sholat asyar.

Aku menuju meja makan,kulihat makanan sudah tersedia. Telor dadar kesukaanku dipadukan dengan dadar jagung hangat dan sayur bayam bening ditambah sambal tomat.  Aromanya sangat menggiurkan. Ibu tidak pernah lupa dengan makanan kesukaanku.

“Makan yang banyak. Badanmu agak kurus gitu.” kata ibu setelah selesai sholat.

“Bu, gimana kabar Bu dhe?” tanyaku setelah selesai makan.

“Alhamdulillah, beliau sehat-sehat saja, mampirlah ke rumahnya nanti.”

Bu dhe adalah tetangga dekatku. Selisih satu rumah sebelah kanan rumahku. Beliau hidup sendirian dan sudah kami anggap seperti saudara sendiri, sering menemani ibu dan tidak jarang tidur di rumah ini. Dulu dia juga yang mengajariku mengaji bersama anak-anak di kampung ini. Bu dhe orangnya sangat ramah dan baik sekali. Aku kangen mendengar suara merdunya yang membuat hati damai saat mengaji.

Lepas maghrib aku duduk di teras rumah, menikmati alunan suara mengaji yang terdengar dari speaker masjid yang tidak jauh dari rumahku. Suaranya lembut mengalun seirama dengan angin malam yang sepoi-sepoi. Bulan yang bulat sempurna menambah penerang jalan menjadikan gang depan rumahku lebih benderang, Bintang pun bertaburan di atas sana. Begitu cantik langit malam ini membuat hatiku semakin sejuk.

Aku berjalan menyusuri gang kecil depan rumahku setelah selesai salat isya di masjid, banyak orang yang tersenyum menyapa dan menanyakan kabarku. Tak sedikit pula yang mengajakku berbincang tentang kehidupanku di kampus. Aku tiba di rumah Bu dhe. Ku lihat seorang wanita yang sedang membaca Al Quran di sana. Aku hampiri diam-diam dan mendengarkan alunan suaranya. Dari dulu hingga sekarang suaranya selalu membuatku tersentuh. Aku menunggu, duduk di bangku bawah pohon jambu di teras rumahnya . Setelah ia selesai membaca al-quran aku baru mengucap salam.

“Assalamualaikum.” salamku sambil menyalaminya.

“Waalaikumsalam. Kapan datang?” tanyanya dengan penuh semangat.

“Tadi sore, Bu dhe.” jawabku.

“Oooo. Gimana, sehat?” tanyanya basa-basi. Meskipun sudah lumayan tua tapi budhe masih terlihat cukup sehat. Dia tak pernah mengeluh dan selalu tersenyum ramah.

“Alhamdulillah Budhe.” jawabku dibalas anggukan olehnya.

Aku menikmati teh hangat dan tempe goreng yang disuguhkan budhe sambil berbincang-bincang tentang masa lalu dan tentang mimpi-mimpiku yang belum bisa kuraih.

“Saya pamit dulu ya Budhe. Tadi belum sempat ngobrol banyak dengan ibu, makasih banyak teh dan tempe gorengnya.” Aku segera beranjak meninggalkan ruang tamu setelah bersalaman dengannya.

Di rumah, ibu sudah menungguku, di ruang tengah sambil menonton TV. Biasanya budhe yang menemani ibu di situ. Berdua menonton TV sambil berbincang-bincang bahkan kadang-kadang sampai ketiduran keduanya.

“Gus, kamu besok lama kan balik lagi ke malang?”

“Tidak bisa lama Bu, lusa harus kembali, ada tugas yang belum ku selesaikan.”

“Oh, kalau gitu besok sempatkan ke rumah Astri, temanmu kan? Ibu lupa mengabarimu. Dia meninggal seminggu yang lalu.”

“Innalilahi waina ilaihi rojiun..” Sakit apa dia Bu?” Aku benar-benar kaget. Dadaku tiba-tiba sesak, bergemuruh seperti baru saja kehilangan sesuatu yang luar biasa aku sayangi.

“Kabarnya sakit DB, setelah dirawat di rumah sakit, seminggu kemudian dia meninggal, kasihan sekali ibunya.”

“Oh.. kasihan. Semoga husnul khotimah.” Aku mencoba bicara setenang mungkin di hadapan ibu, padahal sesungguhnya hatiku meradang. benar-benar merasa seperti ada yang hilang.

Astri anak yang baik. Sedikit pemalu tapi pintar. Dia sangat santun pada siapapun. Bahkan saking hormatnya kepada orang yang lebih tua terkadang cara bicaranya agak kurang kusukai, sepertinya terlalu berlebihan. Menurutku dia seperti orang-orang zaman dulu yang harus menyembah-nyembah saat bertemu raja. Tapi sebetulnya dia tidak salah, dan memang harus seperti itulah etika sopan santun dalam pergaulan apalagi kita yang hidup di lingkungan Jawa. Ah.. aku saja yang berlebihan menilainya.

Aku teman satu sekolah waktu SMA. Bahkan waktu SMP juga satu sekolah. Maklum waktu itu SMP dan SMA negeri hanya ada satu-satunya di kota kecamatan tempat aku tinggal.  Aku sudah mengenalnya sejak dulu tapi meskipun teman sejak kecil, selama hampir dua tahunan bersekolah di SMA, bisa dikatakan hanya dalam hitungan jari aku bercanda gurau dengannya. Entah aku yang tidak pandai bicara, kurang supel atau karena dia yang sering menjaga jarak. Jujur, sebetulnya berkali-kali juga telah ku usahakan agar aku bisa menjadi sedikit mengasikkan saat ketemu atau mengobrol dengannya namun, lagi-lagi aku selalu menampilkan kekakuan, ketidak-pe-de-an dan buru-buru mengakhiri pembicaraan dan berlalu darinya.

            Barulah di tahun ketiga saat SMA aku sekelas dengannya, semua seolah berubah. Aku bersyukur, ternyata menjelang saat-saat akhir aku akan meninggalkan bangku SMA, akhirnya aku memiliki sahabat yang ternyata memiliki pandangan masa remaja yang sama denganku. Ya.. Astri lah orangnya. Satu-satunya orang yang bisa aku ajak berkomunikasi. Dia ternyata benar-benar pintar, tidak hanya soal pelajaran dan  perkataan. Meski dia juga seorang kutu buku. Tidak hanya sekadar seorang teman, Astriakhirnya menjadisahabat dekat yang banyak orang mengira kami lebih dari teman. Tapi kami telah sepakat, akan saling menjaga satu sama lain layaknya saudara.

Waktu awal-awal menjadi teman sekelasnya, aku merasakan dia tidak beda seperti teman-teman yang lain. Yang membedakannya dengan yang lain justru bahasa yang ia pakai saat berbicara denganku. Begitu formal seakan sedang wawancara dengan bos perusahaan. Benar-benar makhluk aneh, sering aku malah jadi tertawa sendiri saat mendengar dia berbicara padaku. Apalagi wajahnya yang penuh misteri semakin melengkapi gambaran akan keanehan yang ditawarkan olehnya. Bahkan saat kerja kelompok atau saat bertemu di kelas tak sepatah kata pun keluar dari mulut kami berdua. Serasa ada dinding pemisah antara kami. Kami lebih sibuk menyerap pelajaran dan bersenda gurau dengan teman-teman yang lain.Sampai tiba pada saat itu, hari Kamis, hujan deras mengguyur di pagi hari, aku melupakan pekerjaan rumahku diatas meja belajar semalam karena terburu-buru kesekolah. Bu DinaGuru matematika meminta mengumpulkan tugas. Aku terdiam duduk di balik meja. Astri juga tidak membawa buku yang sama sepertiku. Kami berduapun mendapat hukuman untuk membersihkan aula sekolah yang lumayan besar.

Disana lah awal aku mengenal sosoknya yang kurasa sedikit misterius. Sambil menyapu dan membersihkan aula sesekali kita saling bertegur sapa. Kulihat mukanya bersemu merah saat kita saling bertatap pandang tanpa sengaja. Ahh.. sungguh dia terlalu manis. Aku suka dengan alisnya yang hitam tebal dan barisan giginya yang dalam salah satu artikel yang pernah kubaca kutemukan istilah maloklusi gigi atau biasa orang menyebut dengan istilah gingsul. Suatu kondisi ketika gigi tidak tumbuh di tempat yang benar dan sejajar. Gigi tidak tumbuh di tempat yang seharusnya. Tapi ternyata justru ia semakin tambah manis. Lihatlah! Sungguh elok saat dia tersenyum dan tertawa. Di aula itulah kita saling bertukar nomor HP. Awal semua kesenangan dan kehebohan antara kami. Hari demi hari kami lewati bersama, layaknya sepasang remaja yang sedang memadu kasih. Bedanya kami hanya sebatas sahabat yang akan saling melengkapi satu sama lain.

Semua memori yang pernah terjadi pada masa SMA begitu menarik bagiku. Entahlah baginya. Semakin dekat dengan ujian kelulusan, hubungan kami semakin erat. Tugas sekolah, pekerjaan rumah, saling memijam buku. Itu lah yang sering kami lewati berdua. Astri pernah bilang bahwa aku selalu bisa mencairkan suasana dengan irama petikan gitar yang kumainkan di kelas disaatjam istirahat atau jam kosong atau saat kami suntuk dan sudah benar-benar bosan dengan tumpukan buku yang menjadi santapan kami setiap harinya.

Hari semakin habis termakan waktu. Semakin dekat dengan ujian kelulusan yang telah menunggu di akhir bulan ini. Keberadaan hubungan kami mulai memudar. Semakin tak ada kata sapaan antara kami. Kami dan teman-teman mulai mempersiapkan semuanya matang- matang. Berlomba untuk meraih hasil yang maksimal. Kami semua berjuang untuk lulus. Kesibukan semakin menyita waktuku dan waktunya. Tak ada lagi irama gitar yang menyegarkan jiwa.

Ujian kami lewati dengan penuh semangat, Pernah kuberanikan diri menyapa Astri yang sedang sibuk dengan buku-bukunya. Hanya tatapan mata yang kudapat. Mungkin waktu itudia benar-benar serius. Pengumuman kelulusan sebentar lagi. Tak sabar ku menanti. Penasaran dan takut melandaku setiap detiknya. Pikiranku yang awalnya optimis menjadi pesimis. Memikirkan bagaimana hasilku.

Tibalah saatnya pengumuman. Alhamdulillah semua lulus dengan nilai yang cukup memuaskan

Semakin hari kami semakin sibuk mencari informasi tentang jalur pendaftaran masuk ke perguruan tinggi negeri. Mencoba tes dimana-mana dan mengirim persyaratan dimana-mana. Satu bulan setelahnya. Aku mendapat kabar diterima di salah satu Universitas yang ada di kota Malang. Aku senang dan bangga bisa diterima di universitas yang menjadi idamanku.

Dan sekarang, aku baru menyadari bahwa mungkin sudah hampir tujuh atau delapan bulanan aku tidak mendengar kabar berita apapun tentang dia. Apalagi bersua dengannya. Nomor HP yang dulu pernah ia berikan kepadakupun tidak bisa kuhubungi. Mungkin ia telah ganti nomor. Pernah di akhir-akhir masa sekolah menjelang perayaan wisuda aku iseng mengirim pesan singkat whatsUpp kepadanya tapi ternyata hanya ia baca tanpa mau membalasnya. Apa sesungguhnya yang terjadi? Apa dia marah kepadaku? Ataukah ada perkataan atau perbuatan yang kulakukan membuatnya sakit hati?

Hingga detik inipun hatiku masih penuh tanda tanya, apa sesungguhnya yang terjadi padanya hingga ia menghilang begitu saja seperti asap meninggalkan api. Jika ada perkataan atau perbuatan yang mungkin kulakukan dan dianggap tidak tepat atau salah menurutnya, sebetulnya aku ingin sekali meminta maaf. Ingin rasanya aku menjelaskan, mengklarifikasi, memberi penegasan bahwa sesungguhnya sepanjang hidupku, aku sama sekali tidak pernah ingin dan tega menyakitinya, membuatnya sakit hati. Apalagi kepadanya yang mungkin menurut sebagian teman memandangnya sebagai dua sejoli, sepasang merpati yang tak pernah ingkar janji. Tapi mereka sama sekali tidak tahu apa sebetulnya yang terjadi.

Yaa,.. di depan pusara inilah hatiku berteriak, mengungkapkan semua keluh kesah, menuangkan semua yang ada di hati. Menjelaskan semua pikiran yang selama ini terpatri dalam ruang rindu. Hanya aku dan dia yang tahu semua isyarat hati dan perasaan yang pernah kusimpan dan tak sempat tersampaikan.

Sesaat angin berhembus datar, menerpa pucuk-pucuk daun flamboyan yang berjajar rapi di pemakaman seolah berbisik :

“Aku akan segera pergi meninggalkan ranting kering yang terpisah daun gugur. Usah kau sesali yang telah terjadi. Tak kan pernah daun gugur kembali lagi.”

 Hari ini angin senja telah mengajariku untuk ikhlas melepasmu..

Mutiara Terindah (1)

Kakiku kini berpijak di bumi yang sampai sekarang masih selalu menjadi kebanggaanku. Bumi tempat aku dilahirkan dan dibesarkan, tempat aku merajut sebuah kisah dan tempat aku menyusun semua mimpi. Ku hirup udara segar yang selalu membuatku rindu. Senja menemani langkahku menikmati pemandangan sekitar yang dipenuhi pohon rindang. Aku menyusuri gang kecil untuk tiba di rumahku dengan menenteng tas rangsel berwarna hitam yang setia menemaniku pulang ke kampung ini. Suasana sebetulnya sudah tidak begitu panas sebab waktu sudah lepas asyar, tapi tidak seperti biasanya saat aku menyusuri jalan ini terlihat begitu sepi.

“Assalamualaikum.”

Aku mengetuk pintu rumah yang sangat sederhana di ujung jalan yang ku lewati tadi.

“Waalaikumsalam.”

Terdengar suara jawaban dari dalam. Tak lama setelah itu pintu terbuka dan tampak seorang wanita paruh baya yang raut wajahnya hampir mirip denganku. Dia adalah ibu ku. Wanita kuat yang selalu berusaha untuk membuat hidupku bahagia hingga aku dapat menggapai mimpiku. Aku pun menyalaminya dan memeluknya erat. Aku sangat rindu dengannya karena hampir empat bulanberpisah dengannya.

“Kenapa kamu tidak bilang kalau akan pulang?”tanya ibuku yang telah melepaskan pelukannya tetapi masih memegang tangaku erat.

“Hanya ingin membuat ibu terkejut” jawabku sambil tersenyum.

“Ahh, kamu ini. Kalau kamu bilang kan ibu bisa masak makanan kesukaan mu.” ujar ibu sambil beranjak meninggalkan ruang tamu, mungkin akan segera menyiapkan teh hangat untukku.

“Kenapa kampung ini sepi sekali ya, Bu?” tanyaku dengan suara agak sedikit kukeraskan.

“Perasaan kamu saja mungkin.”Ibu membalas sambil mengaduk teh hangat di dapur yang bersebelahan dengan meja makan.

Aroma khas dari rumah ini membuatku betah, tatanan dan dekorasi ruangannya pun masih sama seperti terakhir kali aku berada disini. Ingin rasanya selalu berada disini. Tapi karena tugasku sebagai mahasiswa belum selesai jadi itu tak mungkin bagiku. Aku duduk di kursi tamu yang tak begitu empuk tapi nyaman.

Sesaat aku melihat-lihat foto yang terpajang di dinding ruang tamu. Masih tetap seperti dulu, terpampang fotohitam-putih dalam pigora yang tidak terlalu besar. Foto lelaki berperawakan tinggi sedikit kurus berkacamata.Ya.., dia adalah Bapak, lelaki yang pernah menjadi pelindungku, pelindung keluargaku. Bapak adalah lelaki yang pernah menjadi tulang punggung keluargaku. Awalnya bapak seorang guru dan di akhir masa kerjanya pindah tugas menjadi pegawai kantor di dinas pendidikan. Hingga akhir hayatnya bapak paling tidak bisa melihat ibuku sedih apalagi tersakiti. Aku ingat, suatu saat aku pernah benar-benar membuat ibuku sedih, membujuk-bujukku sambil setengah menangis, meminta maaf kepadaku karena seragam sekolahku tercuci dan belum kering aku ngotot tidak mau sekolah. Waktu itu ayah bukannya menyalahkan ibu, tapi justru memarahiku karena aku tidak menyiapkan perlengkapan sekolah sore kemarin. Waktu itu aku jadi bingung, yang membasahkan bajuku ibu kok malah aku yang disalahkan?

Bapak dan aku memiliki hobi yang sama yaitu membaca. Jika kami sudah melakukan itu maka kami akan melupakan segalanya. Lama-lama ibuku juga ketularan mencintai buku juga. Itu sebabnya sampai sekarang masih belum berubah sedikitpun letak tatanan buku-buku di rak yang ada di sudut ruang tengah yang tidak begitu luas.

“Gus, kamu mandi dulu setelah itu makan.”Ibu berkata sambil meletakkan teh hangat di meja dekat rak buku.

“Ya bu.” ujarku lalu menyusupkan kembali buku yang barusan kuambil dari deretan rak buku.

Aku tiba di salah satu kamar yang pintunya sudah dari tadi terbuka.

“Masih sama.” celetukku.

“Ibu kadang tidur di kamarmu.” ujar Ibu sambil meletakkan handuk dan sarung untukku di atas kasur dipan.

“MakasihBu.” Aku menghela napas dan merebahkan diri di kasur yang tak begitu besar.

GULA MERAH

Gresik (Ruang Kaca.com) Alkisah, Seorang lelaki miskin menjual gula merah yang dibuat istrinya ke kota.

Istrinya selalu membuat gula merah dengan bentuk bulat dan beratnya 1 kilo gram.

Dia selalu menjual gula merah itu ke salah satu toko dan membeli kebutuhan harian mereka untuk sekadar makan.

Suatu ketika pemilik toko itu curiga dengan berat gula merah itu dan dia pun menimbangnya. Ternyata beratnya tidak sampai 1 Kilo gram, Hanya 900 Gram.
Tangannya gemetar dan dadanya terasa seperti ingin meledak.

“Jadi selama ini dia membohongiku.
Berapa banyak kerugian yang aku alami. Dasar Penipu..!!!” teriaknya dalam hati.

Hari itu juga lelaki miskin itu di datanginya dengan membawa gula merahnya.
“Kamu telah menipu saya.. !
Kamu bilang gula merah ini 1 Kilo gram ternyata hanya 900 gram saja.. !” teriak pemilik toko.

Lelaki miskin itu menundukkan kepalanya dan berkata :
“Kami orang miskin. Kami tidak punya timbangan di rumah. Kami membeli beras di toko Bapak seberat 1 Kilo gram dan itulah yang kami jadikan timbangan untuk menimbang gula merah”.

Seketika wajah si pemilik toko jadi merah karena malu, Semerah gula merah yang dia persoalkan.

Pesan moral :
Terkadang Kita pandai menyalahkan orang lain, Tapi kita tidak menyadari ternyata sebenarnya sumbernya kesalahan itu datang dari diri kita sendiri…

MESKI JOMBLO TETAP HAPPY

Gresik (Ruang kaca.com) Jika kamu dibully hanya karena kamu Jomblo tak perlu lah kamu baper apalagi minder. Jomblo itu bukanlah sebuah aib atau dosa.

Kamu tak perlu pula iri terhadap mereka-mereka yang punya pacar. Jomblo itu adalah sebuah ujian, pacaran itu musibah, dan menikah adalah berkah. Jadi bagaimana kamu bisa iri terhadap mereka yang kini tertimpa musibah?

Pantaslah kamu bersyukur jika kamu Jomblo. Allah menjaga mu dari musibah, Allah menjagamu dari maksiat, Allah menjagamu dari dosa, dan Allah menjagamu hingga saat yang tepat untukmu menemukan laki-laki yang akan mengantarkanmu ke syurganya Allah.

Kamu justru perlu baper jika selama Jomblo kamu tidak berbuat apa-apa, tidak punya aktivitas apa-apa, tidak menghasilkan apa-apa, dan hanya terpaku pada dirimu sendiri. Tak kamu hiraukan keluargamu, kamu acuhkan orang-orang sekitarmu, dan kamu abaikan anak-anak yatim. Padahal dengan kondisimu sekarang kamu diberi kesempatan oleh Allah untuk semakin dekat dengan keluarga, menghabiskan waktu dengan sanak saudara, dengan sahabat, dan dengan anak-anak yatim yang mungkin kamu tidak tau ada berkah dan doa-doa mustajab yang tersimpan di antara mereka.

Kamu tak perlu repot-repot mengejar Babang-Babang ganteng, rupawan, nan mapan. Yang kamu harus lakukan sekarang adalah cukup dengan menjadikan dirimu jodoh idaman.

Caranya bagaimana?
Kenali diri sendiri lebih dalam lagi

Upgrade diri menjadi pribadi yang lebih baik

Gali impian-impianmu kembali

Kerjakan hobby kamu bersama sahabat-sahabat kamu

Miliki komunitas yang positif dan produktif

Kenali passion kamu dan maximalkan potensi diri

Jadikan dirimu pantas menerima jodoh yang kau impikan

Yakinlah, jodohmu pun sedang memperbaiki diri jika kamu mau berbenah

Jadi,…. berhenti baper hanya karena Jomblo. Ingat, Jomblo itu bukanlah sebuah aib apalagi dosa. Yang dosa adalah yang membully Jomblo