Suara Dentuman Keras Kagetkan Warga SMAN Kebomas Gresik

(Gresik, Ruangkaca.com)
Bunyi dentuman meriam dan jeritan beberapa orang pagi tadi (Senin, 8 November 2021) benar-benar mengagetkan warga masyarakat yang tinggal di sekitar jalan Dr Wahidin Sudiro Husodo Gresik. Beberapa orang berhamburan menyelamatkan diri, membawa apa saja yang bisa dibawa. Anak-anak kecil menangis sambil berlari ketakutan. Segerombolan pemuda berlari membawa bendera merah putih, sementara bunyi mesin kendaraan meraung2 berbarengan dengan letusan senjata api.
Itulah sebagian performa yang dilakukan siswa- siswi SMAN Kebomas dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November. Aksi drama kolosal ini dibidani oleh Ali Murtadho salah satu guru sejarah di SMAN Kebomas. Menurutnya pergelaran drama kolosal yang menggambarkan perjuangan Arek-Arek Suroboyo semacam ini rutin dilakukan di SMAN Kebomas setiap tahunnya. “Kali ini yang terlibat adalah anak-anak yang tergabung dalam teater, padus, tari, band dan pasus serta diikuti oleh seluruh siswa SMAN Kebomas” ujarnya.
Ali Imron, kepala SMAN Kebomas mengatakan bahwa momen hari Pahlawan hendaknya dijadikan sebagai tonggak kebangkitan pemuda untuk memacu semangat berkarya dan meraih kesuksesan. “Pemuda saat ini adalah pemimpin di masa depan” ujarnya.
Menurut Nur Hasim Waka kesiswaan, peringatan hari pahlawan tahun ini sengaja dilaksanakan pada tanggal 8 November bertepatan dengan pelaksanaan apel pagi awal pekan sebab situasinya masih pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) sehingga hanya diikuti oleh siswa di sesi satu.
“Pergelaran drama kolosal tahun ini agak berbeda dengan yang dilakukan biasanya sebab semua yang hadir di sekolah wajib melaksanakan prokes” ujarnya(bsew)

Surprise Bomas Attack Goncang Warga Smabom

(Gresik, Ruangkaca.com) Setelah sekian lama kegiatan upacara bendera dan apel awal pekan tidak dilaksanakan di SMAN kebomas, pagi tadi, Senin 1 Oktober 2021 dilaksanakan apel pagi di lapangan upacara sekolah yang terletak tidak jauh dari kantor bupati Gresik. Di dalam kegiatan tersebut kepala SMAN Kebomas Ali Imron sekaligus melantik pengurus OSIS SMAN Kebomas masa bakti 2021-2022. “Semoga leader-leader yang dilantik saat ini kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin di masa depan” ujarnya. Di akhir kegiatan apel pagi, Bomas Attack sporter kebanggaan arek-arek Smabom secara tiba-tiba melakukan kejutan dengan membentangkan beberapa spanduk besar bertuliskan selamat datang kepala sekolah baru dan ucapan selamat kepada pengurus OSIS yang baru dilantik di beberapa tempat dengan diiringi nyanyian dan dentuman drum layaknya konser sporter maka spontan pula ratusan peserta apel pagi menyambut dengan nyanyian bersama khas sporter yang sangat akrab di telinga warga SMAN Kebomas. Menurut Wildan, ketua Bomas Attack, spontanitas yang dilakukan merupakan bentuk ucapan selamat datang kepada kepala sekolah yang baru sekaligus wujud dukungan kepada pengurus OSIS yang baru dilantik. ” Semoga SMAN Kebomas semakin jaya.” Ujarnya.
Sementara itu, Nur Hasim Waka kesiswaan mengatakan bahwa apa yang dilakukan anak-anak Bomas Attack merupakan luapan rasa syukur karena bisa belajar kembali di sekolah yang sama-sama dicintai setelah sekian lama terhalang oleh adanya pandemi.
“Meskipun Evoria tetapi anak-anak tetap wajib mematuhi prosedur kesehatan.” Ujarnya(bsew)

Peringatan Maulidurrasul dan Bulan Bahasa SMAN Kebomas

(Gresik,Ruangkaca.com)Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan sarana untuk merayakan kelahiran Rasul pembawa pesan Allah SWT. Di SMAN Kebomas Gresik kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Jumat 29 Oktober 2021. Kegiatan Maulidurrasul tahun ini diselenggarakan bersamaan dengan Peringatan Bulan Bahasa yang biasanya dilaksanakan setiap tanggal 28 Oktober. Acara yang dilaksanakan di Masjid Al Akbar SMAN Kebomas tersebut dihadiri seluruh warga sekolah.
Menurut kepala SMAN Kebomas Ali Imron, kegiatan yang dilaksanakan setiap tahun ini merupakan bentuk kebahagiaan dan rasa syukur atas lahirnya rasul penolong, pembawa kabar gembira yaitu Rasulullah Muhammad SAW yang lahir pada senin 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah.
“Harapan dari terlaksananya peringatan maulid Nabi Muhammad SAW adalah menyatukan warga sekolah dengan iman dan kebahagiaan atas lahirnya sang panutan, Rasulullah Muhammad SAW.” Ujarnya.
Sementara itu menurut Nur Hasim Waka kesiswaan, acara tahun ini sengaja dirangkai dengan peringatan Bulan Bahasa yang sejalan dengan makna ayat suci Al Quran surat Al-Alaq yang diawali dengan Iqra’ yang artinya bacalah.
“Semoga ke depan budaya literasi di SMAN Kebomas semakin baik.” Tambahnya.
Di akhir acara dibagikan hadiah pemenang lomba peringatan Bulan Bahasa yaitu lomba Sudut Baca kelas, lomba menulis cerpen dan lomba menulis komik/cergam.(bsew)

Perahu-Perahu Mimpi (4)

Rona mukanya memerah saat ia menceritakan kisah ini, jelas terbaca kesedihan yang mendalam. Aku yakin ia sangat-sangat kehilangan. Anak mana yang tidak perih harinya saat ditinggalkan orang tuanya untuk selama-lamanya. Saat bercerita, sesekali ia berusaha menutupi perasaan, aku tahu ia benar-benar bersedih. Apalagi dengan kepergian mamaknya yang beberapa tahun ia tinggalkan. Di saat beberapa impian telah ia raih, di saat yang sama Tuhan mengambil nikmat yang telah diberikan. Aku tahu, jika tidak sedang di hadapanku, pastilah ia akan menangis sesenggukan.

Kini sudah banyak nikmat yangtelah Tuhan berikan kepadanya. Ia telah berhasil melewati serangkaian tikungan, turunan dan tanjakan yang Tuhan persembahkan untuk kehidupannya. Tujuan utamanya merantau dulu adalah ingin menjadi orang yang berguna untuk lingkungannya, untuk kampung halamannya. Ia bercita-cita ingin mengabdikan diri untuk kemakmuran desanya yang jauh dari perkotaan. Ia melihat tidak sedikit anak-anak yang putus sekolah dan tidak mengenyam pendidikan. Faktor utamanaya adalah ekonomi. Rata-rata penduduk di desanya adalah buruh tani tambak, sehingga pendidikan sangat diabaikan. Suatu saat nanti ia akan kembali ke kampung halaman, membangun desanya yang terbelakang. Ia ingin mengubah pikiran orang-orang di desanya yang menganggap pendidikan tidaklah penting.

Perjuangan mengubah paradikma masyarakat di desanya sebetulnya telah mulai ia rintis sejak setahun yang lalu. Ia merintis “Rumah Belajar Anak Pinggiran”. Lembaga pendidikan non formal ini didirikan bersama adiknya dan segenap masyarakat di desanya sebagai wujud pengabdian untuk kampung halamannya, bentuknya adalah berupa layanan pendidikan untuk anak pinggiran yang haus akan pendidikan.

Meskipun belum cukup lama lembaga ini didirikan, namunrupa-rupanya cukup tinggi antuasias masyarakat yang mendukung serta membantu menghidupkan kegiatan di lembaga ini. Beruntungnya, banyak pemuda seusia adiknya yang dengan sukarela mengajar di sini. Ia sangat bersyukur lembaga ini bisa berjalan dan berkembang dengan cepat.Tahun ini lembaga itu sudah mengantongi izin operasional sebagai lembaga formal berbentuk sekolah. Ia berharap semakin banyak masyarakat di desanya yang dermawan yang mau memikirkan nasib anak-anak pinggiran disana.

Ia bercerita dengan penuh semangat. Menggelora seperti puluhan anak panah yang dilesatkan dari busurnya, Berkali-kali aku berdecak kagum. Berkali-kali ia mengatakan bahwa perjuangannya belum usai. Ia masih memiliki impian-impian yang menggunung di sanubarinya.

Dimeja baca yang bersih, antara barisan rak-rak buku perpustakaan yang sejuk, hatiku merenung, aku ingat dengan kata-kata yang pernah diucapkan Wayne Huizenga dan Zig Ziglar dalam bukunya :

“Beberapa orang memimpikan kesuksesan, sementara yang lain bangun setiap pagi untuk mewujudkannya.”

“Kebahagiaan sama dengan kenyataan dikurangi ekspektasi.”

“Kita tidak perlu menjadi luar biasa untuk memulai, tapi kita harus memulai untuk menjadi luar biasa.”

            Kini aku mengerti, bahwa kesuksesan adalah hasil dari kesempurnaan, kerja keras, belajar dari pengalaman, loyalitas, dan kegigihan. Untuk meraih sukses, sikap sama pentingnya dengan kemampuan. Sukses adalah sebuah perjalanan, bukan sebuah tujuan. Usaha sering lebih penting daripada hasilnya. Rahasia dari kesuksesan adalah bahwa kita tidak pernah menyerah. Kesuksesan dan kegagalan adalah sama-sama bagian dalam hidup. Keduanya hanyalah sementara. Tidak ada kesuksesan tanpa kesulitan.

Tiga hal yang paling penting mengenai kebahagiaan dalam hidup, yakni sesuatu yang kita kerjakan, sesuatu yang kita cintai, dan sesuatu yang kita harapkan.

Perahu-Perahu Mimpi (3)

Lagi-lagi cobaan datang menyerang tanpa kenal ampun. Menghantam tanpa kenal surut. Perlakuan kurang menyenangkan dari teman-temannya hadir ketika ia hendak berusaha memperbaiki data-data beasiswa. Ia mendapat kecurangan dari teman-temannyayang tidak menyukai keberadaannya. Teman-temannya tersebut memberikan laporan kepada rektorat demi menurunkan reputasi prestasinya di kampus. Dan benar saja karenalaporan itu, akhirnya beasiswanya dicabut oleh pihak kampus.

Waktu itu masa tenggang pendidikannya di S1 hanya tinggal satu semester sebelum kelulusan dan yang menjadi masalah adalah bagaimana ia bisa menyelesaikan pendidikan sedangkan saat ituiatidak memiliki uang sepeser pun.Mau tidak mau akhirnya ia harus bertekat  akan bekerja lebih keras demi mencukupi kebutuhan sehari-hari dan biaya kuliahnyayang tinggal satu semester. Untunglah Tuhan benar-benar maha adil. Entah sebuah keajaiban atau jawaban dari Tuhan atas doa-doanya, seminggu setelahnya ia kembali dipanggil rektorat. Dan ternyata beasiswa bisa memberikan kembali.

Hingga tiba saatnya hari kelulusan. Dengan perjuangan yang keras Alhamdulillah ia dapat lulus S1 dengan predikat cum lauda. Dan tak hanya itu, impiannya untuk melanjutkan ke jenjang S2 beasiswa pun berhasil diraih. Satu lagi mimpinya yang menjadi kenyataan. Sungguh besar anugerah Tuhan untuknya, dan hanya dengan bersyukurlah caranya untuk berterima kasih.

“Hidup itu anugerah yang harus dijalani.”

“Jika kita yakin dan berusaha sungguh-sungguh, Tuhan pasti akan mengabulkannya”

Ia berkata sambil menulis beberapa catatan di buku catatan peminjaman perpustakaan. Aku hanya manggut-manggut saja sambil terus mendengarkan ceritanya.

Hari ini aku free jadi waktuku banyak untuk mendengarkan cerita-ceritanya. Sengaja hari ini aku sempatkan untuk menemiunya di perpustakaan lagi. Mumpung tidak ada tugas kuliah yang harus kuselesaikan segera.  Pagi-pagi sebelum perpustakaan buka aku sudah berada di kampus, sekalian mampir dulu di kantin untuk sarapan. Sebetulnya seminggu yang lalu juga aku sudah mendengarkan beberapa cerita inspiratifnya, cerita-cerita perjuangannya meraih mimpi, tapi rasa-rasanya masih ada yang kurang. Banyak hal yang masih ingin ku dengar dari kisah-kisah hidupnya yang rasanya sangat menarik, bahkan ada beberapa kemiripan dengan kisah hidup yang tengah kujalani. Itu mungkin sebabnya yang membuat aku betah mendengarkan kata-katanya, dari awal sampai akhir seolah sebuah kisah yang tertulis dalam buku harian.  

“Tidak semua keinginan kita bisa terjadi”

“Kadang impian jauh dari kenyataan”

Ia melanjutkan ceritanya sambil melayani mahasiswa yang mengembalikan atau meminjam buku.

Tuhan benar-benar maha bijaksana, dibalik kebahagiaan yang ia raih saat lulus dengan predikat cum lauda dan diterima di program beasiswa S2, Kabar duka kembali menghampiri hidupnya, ternyata Tuhan lebih menyayangi keluarganya. Saat itu mamaknya harus pergi menyusul ayahnya untuk menghadap sang Illahi.

Perahu-Perahu Mimpi (2)

Selang beberapa hari setelah kepergian ayahnya, ia mendapat kabar bahwa ia diterima di universitas negeri di Malang. Ia benar-benar bingung menghadapi kenyataan antara sedih dan gembira. Sedih karena kehilangan orang tua yang dikasihinya dan gembira karena bisa diterima di universitas negeri favorit yang telah lama ia impi-impikan. Jika ia jadi berangkat, ia juga akan meninggalkan mamak dan adiknya tanpa didampingi ayahnya lagi. Benar-benar sebuah pilihan yang sangat berat untuk dipilih. Ibarat makan buah simalakama.  

            Ia menceritakan bahwa berkat dorongan dan motivasi dari guru bimbingan dan konseling yang ada di SMAnya ia akhirnya memutuskan untuk berangkat. Ia bertekat bahwa pasti selalu ada jalan untuk orang yang mau mengubah hidupnya.

            Kepergiannya merantau bukannya tanpa hambatan, Disamping pikiran-pikirannya yang tidak tega meninggalkan mamak dan adiknya, ia juga dihadapkan pada persoalan biaya untuk transportasi, daftar ulang, uang gedung dan lain-lainnya yang membuat kepalanya benar-benar pusing. Untunglah ia mempunyai guru bimbingan konseling yang sangat baik hati dan dermawan. Melalui beliau dihimpun dana dari beberapa orang guru SMAnya sehingga terkumpul uang yang cukup untuk menambah biaya selama beberapa waktu ia di perantauan. Untunglah juga pada akhirnya mamak dan adiknya mau melepaskan kepergiannya meskipun dengan sangat-sangat berat hati.

Rupanya, harapan tak selalu sejalan dengan kenyataan, dan impian tak selalu senada dengan kehidupan. Perjalanan hidupnya ketika menimba ilmu di sini tidak semudah yang ada di pikirannya. Banyak sekali rintangan dan hambatan yang ia hadapi. Hidup di tempat yang jauh dengan hanya bermodalkan tekat saja ternyata sangat-sangat memerlukan keberanian, ketangguhan dan mental yang sekuat baja.

Tekatnya yang benar-benar bulat untuk mengubah nasib membuatnya tidak segan-segan untuk berusaha sekuat tenaga mengumpulkan rupiah. Setiap pagi ia awali hari dengan berjualan koran. Sehabis subuh ia sudah mengayuh sepeda reotnya mengelilingi kompleks perumahan dan beberapa kantor untuk mengantarkan Koran. Siang hari kuliah, sore hingga malamnya ia bekerja sebagai pelayan di warung nasi.Pekerjaan itu ia jalani bertahun-tahun.

Banyaknya diskriminasi sosial yang ia dapatkan selama di sini kerap kali hampir menumbangkan mimpi-mimpinya dan tak sedikit dari teman-temannya di kampusyang tidak menyukai keberadaannya. Mereka beranggapan bagaimana bisa seorang mahasiswa yang menggantungkan hidupnya dari menjual Koran dan pelayan warung nasi bisa kuliah di sini?
Namun sekali lagi, ia selalu berusaha mengokohkan kembali mimpi-mimpi yang hampir tumbang itu. Tak pernah didengarkan cemoohan mereka, apalagi meladeninya. Ia selalu menganggap cacian yang bertubi-tubi dari bibir mereka semua adalah do’a yang akan mengantarkannya kepada kesuksesan.

Perahu-Perahu Mimpi (1)

Namanya Pak Rudi. Ia bilang sudah enam tahun ini tinggal di kota Malang. Enam tahun lalu ia memutuskan meninggalkan kota kelahirannya, Palembang untuk merantau meneruskan pendidikan. Setelah kurang lebih empat tahun kuliah S1, kini berlanjut di S2.Sudah dua tahun iniia bekerja di Perpustakaan kampus. Disini, ia bekerja sebagai petugas pelayanan perpustakaan.Alhamdulillah, katanya selain untuk biaya kuliah dan hidup, iajuga bisa menyisihkan uangnya dan mengirimkanke keluarganya di Palembang. Sampai sekarang, untuk membiayai kuliahnya, selain bekerja di kampus, iajuga mengelola sebuah rumah makan dan toko buku, majalah dan koran di sela-sela kesibukannya kuliah dan bekerja.

            Dulu, katanya semenjak memutuskan untuk merantau, selamaempat tahunia tidak pernah pulang ke kampung halamannyameski hanya untuk menjenguk keluarganya. Maklum, waktu itu ongkos pulang pun ia tidak ada, katanya mungkin semua telah ditakdirkan karena memang sebenarnya keluarganya tak begitu merestui keputusannya merantau.

Pak Rudi bercerita, ia memang terlahir dari keluarga yang berlatar belakang ekonomi rendah atau bahkan mungkin ekonomi paling bawah. Namun hal tersebut bukan masalah baginya, dan tak sedikitpun menyurutkan niatnya untuk terus belajar dan bersekolah setinggi mungkin supaya semua impiannya menjadi nyata.

Beberapa tahun yang lalu, tepatnya saat ia akan masuk SMA ia dan keluarganyabenar-benar dipusingkan oleh masalah ekonomi yang semakin sulit. Sebelumnyasewaktu akan melanjutkan ke SMP saja sudah seperti hal yang mustahil. Tapi Alhamdulillah, rupanya bisa juga lolos katanya.

Saat SMAdulu, ia tepis semua pemikiran mustahil yang ada di benaknya. Setiap pulang sekolah ia meluangkan waktu untuk bekerja demi sepeser rupiah dan berusaha mencari peluang beasiswa-beasiswa agar bisa belajar di bangku Sekolah Menengah Atas.

Bersyukur, adalah sebuah kata dalam kamus hidupnya yang tidak akan pernah usang dikikis masa. Rupanya Tuhan telah menititipkan kecerdasan padanya, sehingga dengan kondisi ekonomi yang seperti itu ia masih memiliki peluang sekolah yang cukup besar.
Tuhan memang maha Adil, dibalik kesulitan selalu ada kemudahan. Tuhan memang selalu memberikan apa yang dibutuhkan bukan apa yang diinginkan. Berkat usaha dan kerja kerasnya, akhirnya ia berhasil lolos SMA.

Setelah berhasil lolos SMA bukannya lepas dari masalah, tapi justru ia harus menghadapi kenyataan yang benar-benar pahit. Ia harus kehilangan ayah yang menjadi tulangpunggung keluarganya, pergi meninggalkan dirinya, mamaknya dan adiknya untuk selama-lamanya. Saat itu perasaannya benar-benar hancur lebur. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah kepada yang maha kuasa.

Aku Ingin Terjaga dari Mimpi (2)

Minggu pagi, gerimispun masih membasahi bumi. Aku sedang memandangi dia yang ada di dalam kamarnya dari atap rumah tetangganya, sampai hujan semakin deras. Aku melihat dia yang sedang menulis entah apa disebuah buku catatan. Mungkin dia menulis cerita atau apalah itu. Aku ingin sekali menghampirinya. Berkata bahwa selama ini aku selalu memandanginya, memperhatikannya dikala hujan turun. Tapi apalah dayaku.  Aku hayalah aku. Yang akan hilang seiring hilangnya hujan.

            Ketika aku masih asik melihatnya dari atap rumah, tiba-tiba dia menoleh dan keheranan melihatku. Aku langsung melesat pergi bersembunyi. Dia berjalan menuju teras dan mencari keberadaanku. Aku masih bertanya-tanya apakah dia bisa melihatku?Padahal semua orang tidak akan bisa melihatku. Apakah dia hanya merasa kalau ada yang melihatnya? Ataukah dia benar-benar bisa melihatku. Tanpa memikirkan itu, akupun melesat pergi meninggalkan hujan yang kian mereda mengiringkepergianku.

            Kadang aku berpikir, sudah berapa lama aku selalu memperhatikannya. Menatapnya dari kejauhan tanpa bisa menggapainya. Aku selalu berharap suatu saat dia bisa kugapai. Tapi itu tidak mungkin bisa terjadi. Tidak akan mungkin.

            Aku selalu berpikir kenapa aku bisa tertarik dengannya yang bahkan sama sekali tidak pernah tahu siapa aku. Aku bahkan sangat menikmati saat memandanginya. Entah sampai kapan aku bertahan seperti ini.

            Sore hari, aku kembali mendatanginya saat hujan turun dan dia sedang di depan sebuah toko. Dia mungkin sedang menunggu seseorang atau entah menunggu siapa. Aku masih tetap setia memandanginya dari tengah jalanan yang telah tergenang air hujan karena amat derasnya. Ku melihat di sekeliling banyak orang yang berjalan menggunakan payung, jas hujan, ataupun sekadar menggunakan penutup kepala untuk menghindari hujan.

            Saat aku kembali melihat ke arahnya, dia telah menatapku dengan penuh keheranan dan rasa curiga. Aku segera berlari untuk menghindarnya. Tapi ternyata dia mengejarku, berlari di belakangku dengan mengangkat kedua tangannya untuk melindunginya dari air hujan. Sampai tiba di sebuah gang sempit, dan aku bersembunyi di atas atap rumah di sebelah gang tersebut. Dia kebingungan mencari keberadaanku.

Aku Ingin Terjaga dari Mimpi (1)

Hujan yang turun sore ini begitu deras hingga jarak pandang terlihat semakin pendek. Pepohonan, atap rumah, tembok dan pagar semuanya kuyup oleh siraman air yang jatuh dari langit. Tapi lain halnya denganku, hujan tidak pernah bisa membasahiku. Karena aku adalah aku, yang sebentar datang dan sebentar pergi.Jika angin berhembus, aku bebas sesuka hati memandang apapun yang kuinginkan, bumi, langit, hamparan sungai, gunung, bebatuan bahkan seseorang yang mungkin tidak pernah bisa kugapai.Seperti halnya sore ini, aku menatapnya dengan leluasa, seseorang yang aku tahu sangat menyukai hujan. Jika orang lain akan membuka payungnya ketika hujan, dia akan berdiri di tengah derasnya hujan dengan membiarkan wajahnya terkena air hujan. Tapi dia tidak membiarkan bajunya basah, dia akan berteduh setelah hujan semakin deras. Aku tahu itu, karena aku selalu memperhatikannya. Selalu memandangnya.

Sore ini hujan turun dengan deras, seperti biasanya aku tetap setia berdiri mematung di tengah derasnya hujan. Memandang seseorang yang kini sedang meminum teh hangat di sebuah kafe. Tertawa bersama teman-temannya. Aku sangat menyukai tawanya. Sesaat kemudian dia melihat kearah jalanan yang dibasahi oleh air hujan. Aku terkejut, tiba-tiba sekarang dia melihat ke arahku, dia bisa melihatku dan dia sedang memandangku.Dia kini sedang melihatku dengan wajahnya yang kebingungan entah karena apa.  Mungkin karena aku yang berdiri mematung di tengah derasnya hujan tapi aku tidak basah.

Aku berlari, berusaha menghindarinya. Disaat semua orang tak dapat melihatku. Dia bisa melihatku, memandangiku dengan heran. Aku bersembunyi di gang sempit di depan kafe dan tetap memperhatikanya lagi. Sampai dia kembali dengan tawanya bersama teman- temannya dan melupakan aku yang barusan dilihatnya.

Mutiara Terindah (2)

Kamar ku sangat sederhana ukurannya pun tak begitu besar sekitar 3 x 3 meter. Tak ada televisi. Hanya ada rak buku, meja belajar dan lemari baju dari kayu jati. Ada beberapa fotoku dan sebuah lukisan bernuansa alam. Hanya itu,sangat sederhana namun bisa membuatku betah. Kamarku terdapat jendela yang menghadap ke kebun dekat rumahku. Setelah merasa cukup bernostalgia dengan suasana dan isi kamar aku begegas menuju kamar mandi.

Selesai mandi aku kembali menuju ruang tengah, menyalakan televisi, dan duduk di karpet bawah yang sengaja dihantarkan ibu di situ.Kunikmati pisang goreng hangat dan teh bikinan ibu sambil membolak-balik beberapa buku. Hmmm.. rasanya nikmat sekali.

“Ayo makan dulu. Nanti keburu dingin” Ibu berkata sambil menata mukena untuk sholat asyar.

Aku menuju meja makan,kulihat makanan sudah tersedia. Telor dadar kesukaanku dipadukan dengan dadar jagung hangat dan sayur bayam bening ditambah sambal tomat.  Aromanya sangat menggiurkan. Ibu tidak pernah lupa dengan makanan kesukaanku.

“Makan yang banyak. Badanmu agak kurus gitu.” kata ibu setelah selesai sholat.

“Bu, gimana kabar Bu dhe?” tanyaku setelah selesai makan.

“Alhamdulillah, beliau sehat-sehat saja, mampirlah ke rumahnya nanti.”

Bu dhe adalah tetangga dekatku. Selisih satu rumah sebelah kanan rumahku. Beliau hidup sendirian dan sudah kami anggap seperti saudara sendiri, sering menemani ibu dan tidak jarang tidur di rumah ini. Dulu dia juga yang mengajariku mengaji bersama anak-anak di kampung ini. Bu dhe orangnya sangat ramah dan baik sekali. Aku kangen mendengar suara merdunya yang membuat hati damai saat mengaji.

Lepas maghrib aku duduk di teras rumah, menikmati alunan suara mengaji yang terdengar dari speaker masjid yang tidak jauh dari rumahku. Suaranya lembut mengalun seirama dengan angin malam yang sepoi-sepoi. Bulan yang bulat sempurna menambah penerang jalan menjadikan gang depan rumahku lebih benderang, Bintang pun bertaburan di atas sana. Begitu cantik langit malam ini membuat hatiku semakin sejuk.

Aku berjalan menyusuri gang kecil depan rumahku setelah selesai salat isya di masjid, banyak orang yang tersenyum menyapa dan menanyakan kabarku. Tak sedikit pula yang mengajakku berbincang tentang kehidupanku di kampus. Aku tiba di rumah Bu dhe. Ku lihat seorang wanita yang sedang membaca Al Quran di sana. Aku hampiri diam-diam dan mendengarkan alunan suaranya. Dari dulu hingga sekarang suaranya selalu membuatku tersentuh. Aku menunggu, duduk di bangku bawah pohon jambu di teras rumahnya . Setelah ia selesai membaca al-quran aku baru mengucap salam.

“Assalamualaikum.” salamku sambil menyalaminya.

“Waalaikumsalam. Kapan datang?” tanyanya dengan penuh semangat.

“Tadi sore, Bu dhe.” jawabku.

“Oooo. Gimana, sehat?” tanyanya basa-basi. Meskipun sudah lumayan tua tapi budhe masih terlihat cukup sehat. Dia tak pernah mengeluh dan selalu tersenyum ramah.

“Alhamdulillah Budhe.” jawabku dibalas anggukan olehnya.

Aku menikmati teh hangat dan tempe goreng yang disuguhkan budhe sambil berbincang-bincang tentang masa lalu dan tentang mimpi-mimpiku yang belum bisa kuraih.

“Saya pamit dulu ya Budhe. Tadi belum sempat ngobrol banyak dengan ibu, makasih banyak teh dan tempe gorengnya.” Aku segera beranjak meninggalkan ruang tamu setelah bersalaman dengannya.

Di rumah, ibu sudah menungguku, di ruang tengah sambil menonton TV. Biasanya budhe yang menemani ibu di situ. Berdua menonton TV sambil berbincang-bincang bahkan kadang-kadang sampai ketiduran keduanya.

“Gus, kamu besok lama kan balik lagi ke malang?”

“Tidak bisa lama Bu, lusa harus kembali, ada tugas yang belum ku selesaikan.”

“Oh, kalau gitu besok sempatkan ke rumah Astri, temanmu kan? Ibu lupa mengabarimu. Dia meninggal seminggu yang lalu.”

“Innalilahi waina ilaihi rojiun..” Sakit apa dia Bu?” Aku benar-benar kaget. Dadaku tiba-tiba sesak, bergemuruh seperti baru saja kehilangan sesuatu yang luar biasa aku sayangi.

“Kabarnya sakit DB, setelah dirawat di rumah sakit, seminggu kemudian dia meninggal, kasihan sekali ibunya.”

“Oh.. kasihan. Semoga husnul khotimah.” Aku mencoba bicara setenang mungkin di hadapan ibu, padahal sesungguhnya hatiku meradang. benar-benar merasa seperti ada yang hilang.

Astri anak yang baik. Sedikit pemalu tapi pintar. Dia sangat santun pada siapapun. Bahkan saking hormatnya kepada orang yang lebih tua terkadang cara bicaranya agak kurang kusukai, sepertinya terlalu berlebihan. Menurutku dia seperti orang-orang zaman dulu yang harus menyembah-nyembah saat bertemu raja. Tapi sebetulnya dia tidak salah, dan memang harus seperti itulah etika sopan santun dalam pergaulan apalagi kita yang hidup di lingkungan Jawa. Ah.. aku saja yang berlebihan menilainya.

Aku teman satu sekolah waktu SMA. Bahkan waktu SMP juga satu sekolah. Maklum waktu itu SMP dan SMA negeri hanya ada satu-satunya di kota kecamatan tempat aku tinggal.  Aku sudah mengenalnya sejak dulu tapi meskipun teman sejak kecil, selama hampir dua tahunan bersekolah di SMA, bisa dikatakan hanya dalam hitungan jari aku bercanda gurau dengannya. Entah aku yang tidak pandai bicara, kurang supel atau karena dia yang sering menjaga jarak. Jujur, sebetulnya berkali-kali juga telah ku usahakan agar aku bisa menjadi sedikit mengasikkan saat ketemu atau mengobrol dengannya namun, lagi-lagi aku selalu menampilkan kekakuan, ketidak-pe-de-an dan buru-buru mengakhiri pembicaraan dan berlalu darinya.

            Barulah di tahun ketiga saat SMA aku sekelas dengannya, semua seolah berubah. Aku bersyukur, ternyata menjelang saat-saat akhir aku akan meninggalkan bangku SMA, akhirnya aku memiliki sahabat yang ternyata memiliki pandangan masa remaja yang sama denganku. Ya.. Astri lah orangnya. Satu-satunya orang yang bisa aku ajak berkomunikasi. Dia ternyata benar-benar pintar, tidak hanya soal pelajaran dan  perkataan. Meski dia juga seorang kutu buku. Tidak hanya sekadar seorang teman, Astriakhirnya menjadisahabat dekat yang banyak orang mengira kami lebih dari teman. Tapi kami telah sepakat, akan saling menjaga satu sama lain layaknya saudara.

Waktu awal-awal menjadi teman sekelasnya, aku merasakan dia tidak beda seperti teman-teman yang lain. Yang membedakannya dengan yang lain justru bahasa yang ia pakai saat berbicara denganku. Begitu formal seakan sedang wawancara dengan bos perusahaan. Benar-benar makhluk aneh, sering aku malah jadi tertawa sendiri saat mendengar dia berbicara padaku. Apalagi wajahnya yang penuh misteri semakin melengkapi gambaran akan keanehan yang ditawarkan olehnya. Bahkan saat kerja kelompok atau saat bertemu di kelas tak sepatah kata pun keluar dari mulut kami berdua. Serasa ada dinding pemisah antara kami. Kami lebih sibuk menyerap pelajaran dan bersenda gurau dengan teman-teman yang lain.Sampai tiba pada saat itu, hari Kamis, hujan deras mengguyur di pagi hari, aku melupakan pekerjaan rumahku diatas meja belajar semalam karena terburu-buru kesekolah. Bu DinaGuru matematika meminta mengumpulkan tugas. Aku terdiam duduk di balik meja. Astri juga tidak membawa buku yang sama sepertiku. Kami berduapun mendapat hukuman untuk membersihkan aula sekolah yang lumayan besar.

Disana lah awal aku mengenal sosoknya yang kurasa sedikit misterius. Sambil menyapu dan membersihkan aula sesekali kita saling bertegur sapa. Kulihat mukanya bersemu merah saat kita saling bertatap pandang tanpa sengaja. Ahh.. sungguh dia terlalu manis. Aku suka dengan alisnya yang hitam tebal dan barisan giginya yang dalam salah satu artikel yang pernah kubaca kutemukan istilah maloklusi gigi atau biasa orang menyebut dengan istilah gingsul. Suatu kondisi ketika gigi tidak tumbuh di tempat yang benar dan sejajar. Gigi tidak tumbuh di tempat yang seharusnya. Tapi ternyata justru ia semakin tambah manis. Lihatlah! Sungguh elok saat dia tersenyum dan tertawa. Di aula itulah kita saling bertukar nomor HP. Awal semua kesenangan dan kehebohan antara kami. Hari demi hari kami lewati bersama, layaknya sepasang remaja yang sedang memadu kasih. Bedanya kami hanya sebatas sahabat yang akan saling melengkapi satu sama lain.

Semua memori yang pernah terjadi pada masa SMA begitu menarik bagiku. Entahlah baginya. Semakin dekat dengan ujian kelulusan, hubungan kami semakin erat. Tugas sekolah, pekerjaan rumah, saling memijam buku. Itu lah yang sering kami lewati berdua. Astri pernah bilang bahwa aku selalu bisa mencairkan suasana dengan irama petikan gitar yang kumainkan di kelas disaatjam istirahat atau jam kosong atau saat kami suntuk dan sudah benar-benar bosan dengan tumpukan buku yang menjadi santapan kami setiap harinya.

Hari semakin habis termakan waktu. Semakin dekat dengan ujian kelulusan yang telah menunggu di akhir bulan ini. Keberadaan hubungan kami mulai memudar. Semakin tak ada kata sapaan antara kami. Kami dan teman-teman mulai mempersiapkan semuanya matang- matang. Berlomba untuk meraih hasil yang maksimal. Kami semua berjuang untuk lulus. Kesibukan semakin menyita waktuku dan waktunya. Tak ada lagi irama gitar yang menyegarkan jiwa.

Ujian kami lewati dengan penuh semangat, Pernah kuberanikan diri menyapa Astri yang sedang sibuk dengan buku-bukunya. Hanya tatapan mata yang kudapat. Mungkin waktu itudia benar-benar serius. Pengumuman kelulusan sebentar lagi. Tak sabar ku menanti. Penasaran dan takut melandaku setiap detiknya. Pikiranku yang awalnya optimis menjadi pesimis. Memikirkan bagaimana hasilku.

Tibalah saatnya pengumuman. Alhamdulillah semua lulus dengan nilai yang cukup memuaskan

Semakin hari kami semakin sibuk mencari informasi tentang jalur pendaftaran masuk ke perguruan tinggi negeri. Mencoba tes dimana-mana dan mengirim persyaratan dimana-mana. Satu bulan setelahnya. Aku mendapat kabar diterima di salah satu Universitas yang ada di kota Malang. Aku senang dan bangga bisa diterima di universitas yang menjadi idamanku.

Dan sekarang, aku baru menyadari bahwa mungkin sudah hampir tujuh atau delapan bulanan aku tidak mendengar kabar berita apapun tentang dia. Apalagi bersua dengannya. Nomor HP yang dulu pernah ia berikan kepadakupun tidak bisa kuhubungi. Mungkin ia telah ganti nomor. Pernah di akhir-akhir masa sekolah menjelang perayaan wisuda aku iseng mengirim pesan singkat whatsUpp kepadanya tapi ternyata hanya ia baca tanpa mau membalasnya. Apa sesungguhnya yang terjadi? Apa dia marah kepadaku? Ataukah ada perkataan atau perbuatan yang kulakukan membuatnya sakit hati?

Hingga detik inipun hatiku masih penuh tanda tanya, apa sesungguhnya yang terjadi padanya hingga ia menghilang begitu saja seperti asap meninggalkan api. Jika ada perkataan atau perbuatan yang mungkin kulakukan dan dianggap tidak tepat atau salah menurutnya, sebetulnya aku ingin sekali meminta maaf. Ingin rasanya aku menjelaskan, mengklarifikasi, memberi penegasan bahwa sesungguhnya sepanjang hidupku, aku sama sekali tidak pernah ingin dan tega menyakitinya, membuatnya sakit hati. Apalagi kepadanya yang mungkin menurut sebagian teman memandangnya sebagai dua sejoli, sepasang merpati yang tak pernah ingkar janji. Tapi mereka sama sekali tidak tahu apa sebetulnya yang terjadi.

Yaa,.. di depan pusara inilah hatiku berteriak, mengungkapkan semua keluh kesah, menuangkan semua yang ada di hati. Menjelaskan semua pikiran yang selama ini terpatri dalam ruang rindu. Hanya aku dan dia yang tahu semua isyarat hati dan perasaan yang pernah kusimpan dan tak sempat tersampaikan.

Sesaat angin berhembus datar, menerpa pucuk-pucuk daun flamboyan yang berjajar rapi di pemakaman seolah berbisik :

“Aku akan segera pergi meninggalkan ranting kering yang terpisah daun gugur. Usah kau sesali yang telah terjadi. Tak kan pernah daun gugur kembali lagi.”

 Hari ini angin senja telah mengajariku untuk ikhlas melepasmu..

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: